"Bertumbuh"
Senin, 11 Mei 2026
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Yang saya hormati, Para Kyai Ibu Nyai, khususnya Para Pembina KH. Ahmad Badjuri beserta Dzurriyat.
Yang saya hormati, Bapak Ibu Guru Tenaga Pendidik dan Kependidikan SMP Islam KH. Ahmad Badjuri, beserta Murid-murid yang saya banggakan.
Pertama-tama mari kita mengucapkan puji dan syukur kepada Alloh SWT, yang telah memberikan kita berbagai nikmatNya, mulai dari nikmat Iman, Islam, dan nikmat lainnya yang tidak terhingga.
Kedua, mari sama-sama kita selalu mengumandangkan sholawat dan salam kepada junjungan nan agung, Nabi Muhammad SAW, beserta para keluarga beliau, sahabat beliau, dan mudah-mudahan syafa'at beliau sampai kepada kita, pengikutnya, di hari kiamat nanti. Aamiin.
Anak-anakku yang Bapak cintai karena Allah,
Coba kalian lihat pohon mangga di samping lapangan itu. Tahun lalu masih kecil. Kalau kalian senderin, patah. Sekarang? Udah tinggi. Udah rindang. Udah mulai belajar berbuah.
Bapak tanya: Pohon itu tiba-tiba gede apa enggak? Enggak kan? Dia tumbuh. Pelan-pelan. Diam-diam. Tapi pasti.
Sama kayak kalian, Nak.
Allah nggak ciptain manusia buat diam di tempat. Kita disuruh "bertumbuh". Tumbuh badannya, tumbuh akalnya, tumbuh akhlaknya.
Tapi tumbuh itu ada syaratnya. Pohon mangga tadi nggak bisa gede kalau:
1. Nggak disiram
2. Nggak kena matahari
3. Akarnya nggak mau nembus tanah
Belajar itu siraman kalian, Nak. Setiap kalian buka buku, otak kalian lagi disiram. Setiap kalian dengerin guru nerangin, akar akal kalian lagi manjang. Setiap kalian ngerjain PR atau tugas, walau ngantuk, kalian lagi numbuhin batang jadi kuat.
Bapak tahu, kadang belajar itu bosen. Ngerjain Matematika rasanya kayak disuruh manjat tebing. Ngapalin Bahasa Inggris rasanya kayak kumur-kumur pake sambel.
Bapak pernah muda, Bapak paham.
Tapi denger ya... Orang yang nggak mau tumbuh, nasibnya kayak rumput. Diinjek orang lewat, diem. Dicabut kambing, pasrah. Kering dikit, mati. Nggak ada yang kenal, nggak ada yang peduli.
Kalian mau jadi rumput? Atau mau jadi pohon mangga? Yang kalau gede, bisa ngasih teduh. Bisa ngasih buah. Bisa bikin orang bilang, "Alhamdulillah untung ada pohon ini."
Anak-anakku, Kita ini cuma 36 orang. Kecil. Tapi ingat: Bibit unggul itu nggak pernah ditanam satu karung. Ditaman satu-satu. Dirawat satu-satu. Karena harapannya besar.
36 kalian ini bibit unggulnya SMP Islam KH. Ahmad Badjuri. Bapak nggak mau 10 tahun lagi denger kabar: "Oh angkatan 2026 ya? Iya, dulu pas sekolahnya males-males semua." Bapak maunya denger: "Angkatan 2026? Masya Allah, sekarang jadi dokter, jadi guru, jadi pengusaha, jadi penghafal Quran."
Tapi itu nggak datang dari doa aja, Nak. Harus dari "rajin". Bahasa Jawanya tekun. Rutin. Nggak kenal bolos nyiram diri sendiri pake ilmu.
Bapak kasih rumus tumbuh versi anak SMP:
1% Lebih Baik Setiap Hari. Hari ini kamu bisa 1 soal Matematika, besok usahain 2 soal. Hari ini ngajimu 3 ayat, besok 4 ayat. Nggak usah langsung lompat. Tapi *jangan berhenti.*
Setahun itu 365 hari. Kalau sehari tumbuh 1% aja, setahun kalian udah tumbuh 365%. Dari nggak bisa jadi bisa. Dari bisa jadi ahli. Itu dahsyatnya rajin.
Jadi Bapak titip 3 hal buat dibawa pulang:
1. Malu kalau nggak tumbuh. Malu sama umur. Malu sama seragam. Malu sama uang SPP orang tua yang dibayar pakai keringat.
2. Catat pertumbuhanmu. Tulis di buku: "Hari ini aku berhasil ngerti KPK." Besok-besok kalau males, baca lagi catatan itu.
3. Bersaing sama diri sendiri. Nggak usah liat temenmu rangking 1. Lawanmu adalah kamu yang kemarin. Hari ini harus ngalahin kamu yang kemarin.
Anak-anakku, Nggak ada pohon mangga yang protes, "Aduh capek ya numbuhin akar." Nggak ada. Dia diem, tapi kerja. Kalian juga gitu. Diem, tapi ngerjain PR. Diem, tapi ngapalain. Diem, tapi nilai ulangan naik. Tiba-tiba aja 3 tahun lagi pas lulus, semua kaget: "Kok kamu jadi hebat gini?"
Jawab aja: "Saya cuma numbuh, Pak. Pelan-pelan."
Bisa kita janji sama-sama? Mulai hari ini, kita berhenti jadi rumput. Kita milih jadi pohon. Yang 36 orang ini, tumbuh bareng-bareng. Nggak ada yang kerdil. Nggak ada yang ketinggalan.
Yang setuju, Bapak minta tunjuk tangan kanan ke atas. Tunjuk ke langit. Bilang sama Allah: "Ya Allah, aku mau bertumbuh."
Masya Allah... Bapak bangga.
Sekian dari Bapak. Selamat bertumbuh, anak-anak hebat. Pulang nanti langsung siram diri kalian pake buku ya.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Anak-anakku yang Bapak cintai karena Allah,
Coba kalian lihat pohon mangga di samping lapangan itu. Tahun lalu masih kecil. Kalau kalian senderin, patah. Sekarang? Udah tinggi. Udah rindang. Udah mulai belajar berbuah.
Bapak tanya: Pohon itu tiba-tiba gede apa enggak? Enggak kan? Dia tumbuh. Pelan-pelan. Diam-diam. Tapi pasti.
Sama kayak kalian, Nak.
Allah nggak ciptain manusia buat diam di tempat. Kita disuruh "bertumbuh". Tumbuh badannya, tumbuh akalnya, tumbuh akhlaknya.
Tapi tumbuh itu ada syaratnya. Pohon mangga tadi nggak bisa gede kalau:
1. Nggak disiram
2. Nggak kena matahari
3. Akarnya nggak mau nembus tanah
Belajar itu siraman kalian, Nak. Setiap kalian buka buku, otak kalian lagi disiram. Setiap kalian dengerin guru nerangin, akar akal kalian lagi manjang. Setiap kalian ngerjain PR atau tugas, walau ngantuk, kalian lagi numbuhin batang jadi kuat.
Bapak tahu, kadang belajar itu bosen. Ngerjain Matematika rasanya kayak disuruh manjat tebing. Ngapalin Bahasa Inggris rasanya kayak kumur-kumur pake sambel.
Bapak pernah muda, Bapak paham.
Tapi denger ya... Orang yang nggak mau tumbuh, nasibnya kayak rumput. Diinjek orang lewat, diem. Dicabut kambing, pasrah. Kering dikit, mati. Nggak ada yang kenal, nggak ada yang peduli.
Kalian mau jadi rumput? Atau mau jadi pohon mangga? Yang kalau gede, bisa ngasih teduh. Bisa ngasih buah. Bisa bikin orang bilang, "Alhamdulillah untung ada pohon ini."
Anak-anakku, Kita ini cuma 36 orang. Kecil. Tapi ingat: Bibit unggul itu nggak pernah ditanam satu karung. Ditaman satu-satu. Dirawat satu-satu. Karena harapannya besar.
36 kalian ini bibit unggulnya SMP Islam KH. Ahmad Badjuri. Bapak nggak mau 10 tahun lagi denger kabar: "Oh angkatan 2026 ya? Iya, dulu pas sekolahnya males-males semua." Bapak maunya denger: "Angkatan 2026? Masya Allah, sekarang jadi dokter, jadi guru, jadi pengusaha, jadi penghafal Quran."
Tapi itu nggak datang dari doa aja, Nak. Harus dari "rajin". Bahasa Jawanya tekun. Rutin. Nggak kenal bolos nyiram diri sendiri pake ilmu.
Bapak kasih rumus tumbuh versi anak SMP:
1% Lebih Baik Setiap Hari. Hari ini kamu bisa 1 soal Matematika, besok usahain 2 soal. Hari ini ngajimu 3 ayat, besok 4 ayat. Nggak usah langsung lompat. Tapi *jangan berhenti.*
Setahun itu 365 hari. Kalau sehari tumbuh 1% aja, setahun kalian udah tumbuh 365%. Dari nggak bisa jadi bisa. Dari bisa jadi ahli. Itu dahsyatnya rajin.
Jadi Bapak titip 3 hal buat dibawa pulang:
1. Malu kalau nggak tumbuh. Malu sama umur. Malu sama seragam. Malu sama uang SPP orang tua yang dibayar pakai keringat.
2. Catat pertumbuhanmu. Tulis di buku: "Hari ini aku berhasil ngerti KPK." Besok-besok kalau males, baca lagi catatan itu.
3. Bersaing sama diri sendiri. Nggak usah liat temenmu rangking 1. Lawanmu adalah kamu yang kemarin. Hari ini harus ngalahin kamu yang kemarin.
Anak-anakku, Nggak ada pohon mangga yang protes, "Aduh capek ya numbuhin akar." Nggak ada. Dia diem, tapi kerja. Kalian juga gitu. Diem, tapi ngerjain PR. Diem, tapi ngapalain. Diem, tapi nilai ulangan naik. Tiba-tiba aja 3 tahun lagi pas lulus, semua kaget: "Kok kamu jadi hebat gini?"
Jawab aja: "Saya cuma numbuh, Pak. Pelan-pelan."
Bisa kita janji sama-sama? Mulai hari ini, kita berhenti jadi rumput. Kita milih jadi pohon. Yang 36 orang ini, tumbuh bareng-bareng. Nggak ada yang kerdil. Nggak ada yang ketinggalan.
Yang setuju, Bapak minta tunjuk tangan kanan ke atas. Tunjuk ke langit. Bilang sama Allah: "Ya Allah, aku mau bertumbuh."
Masya Allah... Bapak bangga.
Sekian dari Bapak. Selamat bertumbuh, anak-anak hebat. Pulang nanti langsung siram diri kalian pake buku ya.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar