Saat itu hati kita mungkin bertanya, buat apa jadi baik? Kenapa tidak cuek saja? Apa aku terlalu baik selama ini? Pertanyaan begitu wajar. Kita semua ingin dihargai, ingin ketulusan dipahami, ingin pengorbanan dianggap. Tapi hidup tidak selalu seperti harapan. Tidak semua kebaikan dapat tepuk tangan. Kadang kebaikan justru balik jadi luka.
Meski begitu, jangan sampai perlakuan buruk orang lain membuat kita kehilangan kebaikan dalam diri. Jangan karena pernah dikhianati kita jadi ikut mengkhianati. Jangan karena pernah diremehkan kita merasa harus merendahkan. Jangan karena pernah disakiti kita menganggap menyakiti itu cara bertahan. Kalau kita melakukan hal yang sama, kita sedang jadi sesuatu yang dulu kita benci.
Ada kisah sederhana. Seorang lelaki tua selalu membawa payung saat berangkat kerja. Setiap hujan, ia berdiri di pinggir jalan dan membiarkan anak sekolah yang tidak bawa payung berteduh. Tidak ada yang membayar. Tidak ada yang meminta. Ia cuma berpikir, kalau bisa membuat perjalanan orang lain sedikit lebih nyaman, kenapa tidak.
Suatu hari, saat menunggu anak-anak pulang, beberapa orang menertawakannya. Ngapain tiap hujan berdiri di situ? Aneh sekali orang tua itu. Ia mendengar. Hatinya tidak nyaman. Ia bisa pergi. Ia bisa berkata mulai sekarang bukan urusanku. Tapi lalu seorang anak datang berlari, tidak bawa payung, wajahnya cemas. Pak, boleh saya berteduh? Lelaki itu tersenyum. Tentu. Mereka berjalan bersama di bawah satu payung. Tidak ada tepuk tangan, penghargaan, atau yang mengabadikan. Tapi bagi anak itu, kebaikan sederhana itu mungkin sangat berarti.
