Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh. Allohumma Sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'Ala Alii Sayyidina Muhammad.
Anak-anakku sekalian yang Bapak/Ibu cintai karena Allah.
Pagi ini, mari kita sejenak melupakan panasnya matahari yang menyengat kulit. Mari kita tarik napas dalam-dalam, rasakan udara yang Allah izinkan masuk ke paru-paru kita. Betapa bersihnya nikmat Allah, dan betapa kotornya kadang kita membalas nikmat itu.
Hari ini, Bapak/Ibu tidak ingin berpidato dengan teori yang rumit. Bapak/Ibu hanya ingin mengajak kalian membayangkan sebuah perjalanan. Bayangkan diri kalian adalah sebuah Rumah Kaca. Rumah yang dindingnya bening, terlihat dari luar, dan memiliki isi di dalamnya.
Islam mengajarkan kita sebuah kalimat indah: Annadhofatu minal iman. Kebersihan adalah sebagian dari iman. Tapi mari kita lihat "Rumah Kaca" kita pagi ini.
Mari kita lihat dinding luarnya: Kebersihan Diri.
Coba tundukkan pandangan kalian ke pakaian yang melekat di badan.
Apakah baju itu sudah rapi dimasukkan? Apakah kuku-kuku di jari kalian sudah dipotong bersih, atau masih menyimpan kotoran hitam di ujungnya? Apakah aroma tubuh kita pagi ini menyenangkan teman di sebelah, atau justru mengganggu mereka?
Anak-anakku, merawat diri bukanlah soal gaya-gayaan. Ini adalah soal Adab kepada Sang Pencipta (Hablum Minallah). Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan. Bayangkan jika kalian menghadap seorang Presiden, kalian pasti akan mandi bersih, memakai parfum, dan berpakaian terbaik. Lantas, bagaimana mungkin saat shalat Dzuhur nanti kita berani menghadap Raja Diraja, Allah SWT, dengan tubuh yang lengket, kaos kaki yang bau, dan sisa makanan di gigi? Sucikanlah jasadmu, karena tubuhmu adalah amanah, dan shalatmu membutuhkan kesucian.
Sekarang, mari kita lihat halaman rumah kaca itu: Kebersihan Lingkungan.
Lihatlah sekeliling tempat kalian berdiri. Lihatlah kelas tempat kalian belajar nanti.
Seringkali kita merasa tidak berdosa saat menyusupkan bungkus permen ke dalam laci meja. Kita merasa "aman" saat meninggalkan bekas tisu di lantai kantin. Kita merasa "bodo amat" saat meninggalkan toilet sekolah tanpa menyiramnya hingga bersih.
Tahukah kalian? Setiap sampah yang kalian buang sembarangan adalah bentuk kezaliman kepada sesama manusia (Hablum Minannas).
Ketika kalian meninggalkan toilet yang bau, kalian telah mendzalimi orang berikutnya yang ingin memakainya. Ketika kalian membuang sampah di laci, kalian telah mendzalimi petugas kebersihan yang lelah membungkuk membersihkannya. Islam agama yang sangat santun; bahkan menyingkirkan duri di jalan saja dihitung sedekah. Maka, membuang sampah pada tempatnya bukan sekadar aturan sekolah, itu adalah bukti bahwa kalian manusia yang punya rasa kasih sayang terhadap orang lain. Jadikan tangan kalian tangan yang memungut kebaikan, bukan tangan yang menyebar kotoran.
Terakhir, dan yang paling penting, mari kita tengok isi di dalam rumah kaca itu: Kebersihan Hati.
Anak-anakku, bayangkan sebuah rumah kaca yang dinding luarnya mengkilap, halamannya bersih tanpa sampah, tapi di dalamnya... di dalamnya penuh dengan bangkai, sarang laba-laba, dan debu kebencian.
Itulah gambaran orang yang bersih fisiknya tapi kotor hatinya.
Apa gunanya seragam putih bersih jika hati kita hitam karena iri melihat teman lebih sukses?
Apa gunanya kelas yang kinclong jika di dalamnya terjadi praktik menyontek saat ujian? Menyontek adalah kotoran kejujuran.
Apa gunanya wajah yang ganteng dan cantik jika mulutnya kotor dengan bully-an dan kata-kata kasar kepada teman?
Allah SWT tidak melihat rupa kalian, tidak melihat seberapa mahal sepatu kalian. Innallaha yanzuru ila qulubikum. Allah melihat hati kalian. Hati adalah raja. Jika hatinya bersih, maka tangannya tidak akan tega membuang sampah sembarangan. Jika hatinya bersih, lisannya tidak akan tega menyakiti teman. Jika hatinya bersih, ia tidak akan curang dalam ujian.
Anak-anakku yang dirahmati Allah,
Sebagai penutup narasi pagi ini, Bapak/Ibu mengajak kalian untuk melakukan "Revolusi Kebersihan".
Mulailah dari hal kecil.
Saat nanti kalian bubar dari barisan ini, lihatlah ke bawah. Jika ada sampah, pungutlah. Niatkan: "Ya Allah, aku bersihkan sampah ini demi mengharap ridho-Mu dan kenyamanan saudaraku."
Saat masuk kelas, luruskan niat. Bersihkan hati dari rasa malas dan benci.
Jadilah siswa yang seperti mata air: jernih airnya (badannya bersih), menyuburkan sekitarnya (lingkungannya bersih), dan murni sumbernya (hatinya bersih).
Semoga Allah membersihkan jiwa raga kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita penghuni Surga-Nya yang penuh kesucian.
Barakallahu walakum.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar