Saat Para Sufi Membuka Lembaran Hitam
Malam ini, di hari ke-20 Ramadhan, ketika separuh lebih bulan suci telah berlalu dan sepuluh malam terakhir hampir tiba, para sufi di berbagai pelosok dunia tengah melakukan sesuatu yang mungkin tak terpikirkan oleh kebanyakan orang. Mereka tidak sibuk menghitung pahala. Mereka tidak sibuk berbangga dengan ibadah yang telah mereka lakukan selama dua puluh hari penuh. Justru sebaliknya, mereka duduk bersimpuh di sajadah yang basah oleh air mata, membuka lembaran-lembaran hitam masa lalu, dan berbisik lirih:
"Ya Allah... inilah diriku. Penuh noda. Penuh salah. Tapi kepada-Mu jua aku kembali."
Di mata para sufi, hari ke-20 memiliki keistimewaan tersendiri. Ia adalah persimpangan antara ampunan di sepuluh kedua dan pembebasan dari neraka di sepuluh terakhir. Di sinilah seorang hamba diuji, apakah ia akan sombong dengan ibadahnya, atau justru semakin rendah hati karena menyadari betapa banyak dosa yang masih melekat?
Syekh Ibnu Atha'illah As-Sakandari, seorang sufi besar dalam kitab Al-Hikam, menulis sebuah pernyataan yang mungkin mengejutkan banyak orang:
معصية اورثت ذلا وافتقارا خير من طاعة اورثت عز واستكبارا
"Kemaksiatan yang membuahkan perasaan hina dan merasa butuh kepada Allah lebih baik daripada ketaatan yang membuahkan perasaan terhormat dan kesombongan."
Subhanallah... Sebuah dosa yang membuat seseorang menangis tersedu-sedu di hadapan Allah, merasa hina dan tak berdaya, ternyata lebih dicintai-Nya daripada ibadah setinggi langit yang justru melahirkan kesombongan dan rasa paling suci. Inilah rahasia besar yang diajarkan para sufi, bahwa dosa yang disesali bisa menjadi jalan pulang yang lebih cepat daripada ketaatan yang dibanggakan.

.png)