Saat Para Sufi Membuka Lembaran Hitam
Malam ini, di hari ke-20 Ramadhan, ketika separuh lebih bulan suci telah berlalu dan sepuluh malam terakhir hampir tiba, para sufi di berbagai pelosok dunia tengah melakukan sesuatu yang mungkin tak terpikirkan oleh kebanyakan orang. Mereka tidak sibuk menghitung pahala. Mereka tidak sibuk berbangga dengan ibadah yang telah mereka lakukan selama dua puluh hari penuh. Justru sebaliknya, mereka duduk bersimpuh di sajadah yang basah oleh air mata, membuka lembaran-lembaran hitam masa lalu, dan berbisik lirih:
"Ya Allah... inilah diriku. Penuh noda. Penuh salah. Tapi kepada-Mu jua aku kembali."
Di mata para sufi, hari ke-20 memiliki keistimewaan tersendiri. Ia adalah persimpangan antara ampunan di sepuluh kedua dan pembebasan dari neraka di sepuluh terakhir. Di sinilah seorang hamba diuji, apakah ia akan sombong dengan ibadahnya, atau justru semakin rendah hati karena menyadari betapa banyak dosa yang masih melekat?
Syekh Ibnu Atha'illah As-Sakandari, seorang sufi besar dalam kitab Al-Hikam, menulis sebuah pernyataan yang mungkin mengejutkan banyak orang:
معصية اورثت ذلا وافتقارا خير من طاعة اورثت عز واستكبارا
"Kemaksiatan yang membuahkan perasaan hina dan merasa butuh kepada Allah lebih baik daripada ketaatan yang membuahkan perasaan terhormat dan kesombongan."
Subhanallah... Sebuah dosa yang membuat seseorang menangis tersedu-sedu di hadapan Allah, merasa hina dan tak berdaya, ternyata lebih dicintai-Nya daripada ibadah setinggi langit yang justru melahirkan kesombongan dan rasa paling suci. Inilah rahasia besar yang diajarkan para sufi, bahwa dosa yang disesali bisa menjadi jalan pulang yang lebih cepat daripada ketaatan yang dibanggakan.
Para Sufi dan Pandangan Mereka tentang Dosa
Dalam tradisi tasawuf, dosa tidak dilihat secara hitam-putih sebagaimana orang awam memahaminya. Para sufi memiliki pandangan yang lebih dalam dan subtil tentang hakikat dosa dan hubungannya dengan perjalanan spiritual seorang hamba.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin membagi dosa menjadi dua kategori. Pertama, dosa-dosa lahiriah yang dilakukan oleh anggota badan. Kedua, dosa-dosa batiniah yang bersemayam di hati, seperti sombong, riya, ujub, dan dengki. Menariknya, dosa batiniah ini jauh lebih berbahaya karena sering tidak disadari dan justru tumbuh subur di tengah kesalehan ritual.
Seorang sufi pernah berkata, "Aku takut jika aku diberi kemampuan shalat malam, lalu aku bangga dengannya, itu lebih buruk daripada aku bermaksiat lalu menangis karenanya." Karena dalam maksiat yang disesali, ada pintu taubat yang terbuka lebar. Sedangkan dalam ibadah yang dibanggakan, ada pintu kesombongan yang menganga tanpa disadari.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
"Katakanlah: 'Wahai hamba-hamba-Ku yang
melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus
asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa
semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.'"
(QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini adalah kabar gembira terbesar bagi orang-orang yang merasa diri penuh dosa. Perhatikan bahwa Allah memanggil mereka dengan panggilan mesra: "Wahai hamba-hamba-Ku" meskipun mereka sedang dalam kondisi "melampaui batas". Ini menunjukkan bahwa dosa tidak pernah memutuskan hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, selama ia masih mau kembali.
Pelajaran dari Nabi Daud
Ada sebuah kisah indah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunia dalam kitab At-Taubah, dari Bakr bin Abdullah Al-Muzani. Beliau bercerita bahwa Nabi Daud 'alaihissalam memiliki kebiasaan yang menarik. Sebelum beliau sendiri melakukan dosa, yaitu saat tergoda melihat wanita yang sedang mandi hingga akhirnya menikahinya, Nabi Daud sering mendoakan keburukan bagi orang-orang yang berbuat salah. Beliau memohon agar Allah menghukum mereka.
Namun setelah beliau sendiri merasakan bagaimana rasanya tergelincir dalam dosa, doanya berubah total. Beliau mulai berdoa:
يَا رَبِّ اغْفِرْ لِلْخَطَّائِينَ لَعَلَّكَ أَنْ تَغْفِرَ لِي مَعَهُمْ
"Yaa Rabbi, ighfir lil khoththoo-iin la'allaka an taghfiro lii ma'ahum."
"Wahai Tuhanku, ampunilah orang-orang yang berbuat salah (dosa), mudah-mudahan Engkau mengampuni aku bersama mereka."
Subhanallah... Betapa indahnya perubahan ini! Daud yang dulu merasa suci dan mudah menghakimi, kini berubah menjadi Daud yang merendah dan memohon ampun bersama para pendosa lainnya. Inilah yang disebut para sufi sebagai "solidaritas dosa", kesadaran bahwa kita semua sama-sama pendosa, hanya saja bentuk dan jenisnya yang berbeda.
Dari sini kita belajar bahwa doa orang-orang berdosa memiliki keistimewaan, ia lahir dari kesadaran yang tulus akan kelemahan diri, dari pengakuan bahwa tanpa ampunan Allah, kita adalah makhluk paling hina. Dan doa yang lahir dari kesadaran seperti ini, insyaallah, tidak akan pernah ditolak oleh-Nya.
Tanda-Tanda Taubat yang Diterima
Para ulama sufi mengajarkan bahwa tidak semua penyesalan itu sama. Ada penyesalan yang hanya muncul di lisan, namun hati masih saja bergelimang dosa. Ada pula penyesalan yang membakar habis masa lalu dan melahirkan semangat baru untuk berubah.
Dalam sebuah artikel yang dimuat NU Online Lampung, disebutkan beberapa tanda bahwa taubat seorang pendosa diterima oleh Allah :
Pertama, ia mulai menjauhi teman-teman yang jahat. Lingkungan pertemanan adalah indikator paling jelas perubahan seseorang. Jika setelah bertobat ia masih bergaul dengan orang-orang yang mengajaknya maksiat, maka taubatnya masih setengah hati. Namun jika ia mulai selektif memilih teman, bahkan mulai mendekati majelis-majelis ilmu, itulah tanda bahwa dosanya benar-benar ia tinggalkan.
Kedua, ia mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian. Orang yang benar-benar menyesali dosanya akan sadar bahwa kematian bisa datang kapan saja. Ia tidak lagi menunda-nunda taubat dengan alasan "masih muda" atau "nanti saja kalau tua". Setiap malam ia tidur dengan perasaan mungkin inilah malam terakhirnya, sehingga ia berusaha mati dalam keadaan bersih.
Ketiga, ia bersungguh-sungguh dalam taat kepada Allah. Dosa-dosa yang dulu ditinggalkan, seperti shalat dan puasa, mulai ia tunaikan dengan penuh kesadaran. Bukan karena takut neraka, tetapi karena rindu kepada Allah yang selama ini ia abaikan.
Syekh Ibnu Atha'illah juga menegaskan bahwa yang terpenting bukanlah apakah seseorang berbuat dosa atau tidak, tetapi apa isi hati setelah berbuat dosa itu. Jika isinya keangkuhan dan merasa diri paling suci, maka taatnya tak berarti. Namun jika isinya kehinaan, penyesalan, dan kebutuhan mendalam akan ampunan Allah, maka dosanya justru menjadi jalan menuju ridha-Nya.
Doa-Doa Penghapus Dosa
Di hari ke-20 ini, saat pintu ampunan terbuka lebar, para sufi menganjurkan untuk memperbanyak doa-doa penghapus dosa. Berikut beberapa di antaranya:
1. Doa Iftitah yang Menghanyutkan
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan sebuah doa iftitah yang luar biasa maknanya. Doa ini dibaca setelah takbiratul ihram, sebelum membaca Al-Fatihah:
اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ
"Allahumma baa'id bainii wa baina khathaayaaya kamaa baa'adta bainal masyriqi wal maghrib. Allahumma naqqinii minal khathaayaa kamaa yunaqqatsawbul abyadlu minaddanasi. Allahumma ghsil khathaayaaya bil maa'i watstsalji wal baradi."
Artinya: "Ya Allah, jauhkanlah aku dari kesalahan dan dosa sebagaimana Engkau menjauhkan timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah diriku dari kesalahan dan dosa sebagaimana Engkau membersihkan baju putih dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari segala kesalahanku dengan air, salju, dan embun."
Ustaz Adi Hidayat dalam salah satu ceramahnya menjelaskan bahwa doa ini mengandung pengakuan dosa yang sangat dalam. Kita memohon kepada Allah untuk membersihkan kita, bahkan dengan air sedingin salju dan embun, agar dosa-dosa itu benar-benar terhapus hingga ke akar-akarnya.
2. Doa Hari ke-20: Memohon Pembersihan Dosa
Khusus untuk hari ke-20 Ramadhan, terdapat doa yang dianjurkan oleh para ulama. Doa ini diambil dari kitab-kitab doa harian Ramadhan:
اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِي فِيْهِ أَبْوَابَ الْجِنَانِ وَ أَغْلِقْ عَنِّي فِيْهِ أَبْوَابَ النِّيْرَانِ وَ وَفِّقْنِي فِيْهِ لِتِلاَوَةِ الْقُرْآنِ يَا مُنْزِلَ السَّكِيْنَةِ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ
"Allahummaftah lii fiihi abwaabal jinaan, wa aghliq 'annii fiihi abwaaban niiraan, wa waffiqnii fiihi litilaawatil qur aan, yaa munzilas sakiinati fii quluubil mu miniin."
Artinya: "Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu surga, dan tutuplah dariku pintu-pintu neraka. Berilah aku taufik untuk membaca Al-Qur'an, wahai Tuhan Yang menurunkan ketenangan di hati orang-orang yang beriman."
Doa ini mengajarkan bahwa kunci masuk surga adalah dosa-dosa yang diampuni. Maka kita memohon agar pintu surga dibukakan dengan cara membuka pintu taubat selebar-lebarnya.
3. Doa Ampunan dari Nabi
Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan doa ampunan yang sangat lengkap:
رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي كُلِّهِ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطَايَايَ وَعَمْدِي وَجَهْلِي وَهَزْلِي وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
"Rabbighfir lii khathii-atii wa jahlii wa israafii fii amrii kullihi wa maa Anta a'lamu bihi minnii. Allahummaghfir lii khathaayaaya wa 'amdii wa jahlii wa hazlii wa kullu dzaalika 'indii. Allahummaghfir lii maa qaddamtu wa maa akhkhartu wa maa asrartu wa maa a'lantu. Antal muqaddimu wa Antal muakhkhiru wa Anta 'alaa kulli syai-in qadiir."
Artinya: "Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kemalasanku, kesengajaanku, kebodohanku, gelak tawaku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku. Engkaulah yang mengajukan dan Engkaulah yang mengakhirkan, serta Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Perhatikan betapa indahnya doa ini. Kita mengakui semua jenis dosa, dosa besar, dosa kecil, dosa yang disengaja, dosa karena kebodohan, dosa serius, bahkan dosa yang hanya berupa canda dan tawa. Semuanya kita serahkan kepada Allah, memohon ampunan-Nya yang tak terbatas.
Dari Rahim Dosa Lahir Kekasih Allah
Dalam sejarah Islam, banyak sekali kisah tentang orang-orang berdosa yang justru menjadi kekasih Allah karena pertobatan mereka yang tulus. Mari kita renungkan beberapa di antaranya:
Fudhail bin 'Iyadh adalah seorang penyamun besar di jalan antara Abuward dan Sarakhs. Setiap malam ia merampok kafilah, dan setiap subuh ia bersembunyi di reruntuhan. Suatu malam, saat ia memanjat tembok untuk merampok sebuah rumah, ia mendengar lantunan ayat Al-Qur'an dari dalam rumah itu:
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ
"Belumkah datang waktunya bagi
orang-orang yang beriman, untuk khusyuk hati mereka mengingat
Allah?"
(QS. Al-Hadid: 16)
Ayat itu bagaikan panah yang menembus hatinya. Ia berkata, "Ya Allah, sungguh telah tiba waktunya." Ia segera bertobat dan meninggalkan semua kejahatannya. Kini tempat persembunyiannya yang dulu ia gunakan untuk merampok, berubah menjadi tempat ia bermunajat. Ia menjadi seorang ulama besar, guru bagi Imam Syafi'i dan ulama-ulama lainnya. Konon, tangisnya di waktu malam begitu keras hingga tetangganya kerap terbangun. Dari seorang perampok, ia menjadi "penyair malam" yang qiamnya dikenal hingga kini.
Bisyr bin al-Harits, atau lebih dikenal dengan Bisyr al-Hafi (Bisyr si Telanjang Kaki), dulunya adalah seorang pemuda yang hidupnya dipenuhi maksiat. Suatu malam, ia berjalan melewati selembar kertas bertuliskan "Bismillahirrahmanirrahim" yang terinjak-injak di tanah. Ia memungutnya, membersihkannya, dan meletakkannya di tempat yang layak. Malam itu ia bermimpi: "Karena engkau telah meninggikan nama-Ku, akan Aku tinggikan namamu di dunia dan akhirat." Sejak itu hidupnya berubah total. Ia menjadi seorang wali besar yang dikenal dengan kezuhudannya.
Kisah-kisah ini mengajarkan bahwa pintu taubat tidak pernah tertutup. Dari rahim dosa, lahir para kekasih Allah. Dari noda hitam, tercipta lukisan indah yang dipajang di 'Arasy-Nya.
Fenomena Tobat di Era Modern
Di era modern ini, semangat untuk kembali kepada Allah juga tidak surut. Berbagai fenomena menunjukkan bahwa manusia, betapa pun jauhnya ia terjerumus, selalu memiliki naluri untuk kembali kepada fitrahnya.
Di Indonesia, fenomena "tobat massal" kerap terjadi di bulan Ramadhan. Di berbagai masjid, diadakan program i'tikaf yang diikuti oleh ribuan orang. Di Lapas-Lapas, para narapidana mengikuti pesantren kilat dengan antusiasme tinggi. Di kafe-kafe dan tempat hiburan malam, pengunjung berkurang drastis, berganti dengan jamaah shalat Tarawih yang memadati masjid.
Data dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengumpulan zakat, infak, dan sedekah setiap Ramadhan. Pada tahun 2023, pengumpulan ZIS nasional mencapai Rp32,321 triliun, meningkat 43,74 persen dari tahun sebelumnya. Ini membuktikan bahwa kesadaran untuk membersihkan harta, sebagai bagian dari taubat, terus meningkat di kalangan umat Islam Indonesia.
Di luar negeri, fenomena serupa juga terjadi. Di London, Inggris, komunitas "Ramadan Space" yang lahir dari grup WhatsApp berhasil menyelenggarakan acara buka puasa bersama yang selalu penuh setiap malam. Seorang mahasiswi berhijab menggambarkan pengalaman itu "seperti oksigen" di saat merasa sulit untuk bernapas di tengah masyarakat yang mayoritas non-Muslim. Di Turki, jutaan orang memadati Masjid Hagia Sophia dan Masjid Sultan Ahmed untuk shalat Tarawih, dengan tangisan haru yang membaur jadi satu.
Semua ini menunjukkan bahwa di hati setiap manusia, betapa pun gelapnya, selalu ada titik cahaya yang siap dinyalakan. Dan Ramadhan adalah musim semi bagi cahaya-cahaya itu.
Malam ke-20 Pintu Menuju Lailatul Qadr
Para pembaca yang budiman, hari ke-20 Ramadhan memiliki keistimewaan tersendiri. Ia adalah gerbang menuju sepuluh malam terakhir, di mana di dalamnya tersembunyi Lailatul Qadr, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Di malam-malam ini, para sufi meningkatkan ibadah mereka secara drastis. Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
"Apabila masuk sepuluh malam terakhir
(Ramadhan), Rasulullah mengencangkan ikat pinggangnya
(bersungguh-sungguh), menghidupkan malam-malamnya, dan membangunkan
keluarganya."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Yang menarik, di malam-malam ini, doa yang paling dianjurkan adalah doa ampunan. Rasulullah mengajarkan kepada Aisyah sebuah doa yang sangat pendek namun sarat makna:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
"Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'annii."
"Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai ampunan, maka ampunilah aku."
Doa ini mengajarkan bahwa di puncak ibadah, kita tidak meminta surga, tidak meminta bidadari, tidak meminta istana. Kita hanya meminta satu hal, yaitu ampunan. Karena dengan ampunan, surga dan segala isinya akan menyusul dengan sendirinya. Dengan ampunan, hati menjadi bersih, dan hati yang bersih adalah bekal terbaik untuk menghadap-Nya.
Ketika Dosa Menjadi Rahmat Tersembunyi
Para sufi memiliki pandangan yang unik tentang dosa. Bagi mereka, dosa yang disadari dan disesali bisa menjadi rahmat tersembunyi yang mengantarkan seorang hamba kepada derajat yang lebih tinggi daripada mereka yang tidak pernah jatuh.
Mengapa demikian? Karena orang yang pernah jatuh lalu bangkit, memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh mereka yang selalu berada di jalan lurus, ia memiliki pengalaman tentang kedalaman rahmat Allah. Ia tahu bagaimana rasanya tenggelam lalu diselamatkan. Ia tahu bagaimana rasanya tersesat lalu ditunjukkan jalan pulang. Ia tahu bagaimana rasanya dihina karena dosa, lalu dimuliakan karena taubat.
Pengalaman ini menjadikan ibadahnya lebih tulus, lebih dalam, lebih basah oleh air mata. Ia tidak lagi beribadah karena ingin dipuji, tetapi karena rindu kepada Zat yang telah menyelamatkannya. Ia tidak lagi takut dosa karena hukuman, tetapi karena malu kepada Zat yang begitu pemurah padanya.
Syekh Ibnu Atha'illah menulis dalam Al-Hikam:
رب معصية أورثت ذلا وانكسارا خير من طاعة أورثت عزا وكبرا
"Betapa banyak maksiat yang mewariskan kehinaan dan kerendahan hati, lebih baik daripada ketaatan yang mewariskan keangkuhan dan kesombongan."
Maka janganlah pernah merasa paling suci. Jangan pernah merasa ibadah kita sudah cukup. Jangan pernah merasa dosa kita terlalu besar untuk diampuni. Karena bisa jadi, di balik dosa yang kita tangisi, Allah sedang memanggil kita dengan panggilan mesra: "Wahai hamba-Ku yang berlumur dosa, kemarilah. Aku rindu sujudmu yang basah oleh air mata penyesalan."
Mari Pulang, Sebelum Terlambat
Saudaraku yang dikasihi Allah,
Kita telah berada di hari ke-20 Ramadhan. Masih tersisa sepuluh malam yang di dalamnya terdapat Lailatul Qadr. Jangan biarkan kesempatan emas ini berlalu begitu saja.
Jika selama ini engkau merasa diri penuh dosa, bersyukurlah. Karena perasaan itu adalah tanda bahwa iman masih bersemayam di hatimu. Orang yang hatinya sudah mati, tidak akan peduli meskipun ia bergelimang dosa. Tapi engkau yang masih merasa berdosa, yang masih gelisah ketika berbuat salah, yang masih menangis ketika teringat maksiat masa lalu, itu adalah tanda bahwa Allah masih sayang padamu. Ia masih menggetarkan hatimu agar engkau segera kembali.
Maka, di sisa Ramadhan ini, mari kita lakukan beberapa hal:
Pertama, akui semua dosa dengan jujur di hadapan Allah. Tidak perlu malu, tidak perlu berbasa-basi. Allah Maha Mengetahui apa yang kita sembunyikan. Maka bukalah hati, keluarkan semua penyesalan, dan mintalah ampun dengan tulus.
Kedua, perbanyak istighfar di waktu sahur. Waktu sahur adalah sepertiga malam terakhir, saat Allah turun ke langit dunia dan bertanya, "Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, pasti Aku ampuni." Jangan lewatkan momen berharga ini.
Ketiga, jaga shalat malam. Dalam sujud yang panjang, curahkan semua isi hati. Rasulullah bersabda bahwa sedekat-dekatnya hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sedang sujud. Maka perbanyaklah doa di dalam sujud.
Keempat, bersedekahlah. Sedekah memadamkan kemurkaan Allah dan menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api. Di sepuluh malam terakhir, perbanyak sedekah, baik yang terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.
Kelima, jangan putus asa. Sepahit apa pun masa lalumu, sebesar apa pun dosamu, ketahuilah bahwa rahmat Allah lebih luas dari itu semua. Allah menciptakan rahmat seratus bagian, satu bagian untuk dunia, 99 bagian untuk akhirat. Dengan satu bagian itulah seluruh makhluk saling menyayangi, hingga seekor kuda mengangkat kakinya karena khawatir menginjak anaknya. Lalu bayangkan, betapa besarnya 99 bagian yang disimpan untuk akhirat?
Saudaraku, dosa bukanlah akhir segalanya. Ia bisa menjadi awal dari perjalanan baru yang lebih indah. Seperti kata seorang penyair:
"Dosa-dosamu adalah bukit-bukit yang kau daki untuk sampai ke puncak rahmat-Nya. Maka jangan kau sesali, tapi jadikan ia tangga."
Mari songsong sepuluh malam terakhir dengan hati yang bersih, dengan air mata penyesalan yang tulus, dan dengan harapan yang tak pernah padam akan ampunan-Nya. Semoga kita semua dipertemukan dengan Lailatul Qadr, dan semoga dosa-dosa kita diampuni, sehingga kita keluar dari Ramadhan seperti bayi yang baru lahir, bersih, suci, tanpa noda.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
"Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami, teguhkanlah langkah kami, dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir."
Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Wallahu a'lam bish-shawab.
#DoaOrangBerdosa #TaubatDiRamadhan #MaghfirahRamadhan #LailatulQadr #SMPIslamKHAhmadBadjuri

Tidak ada komentar:
Posting Komentar