Bayangkan Anda sedang asyik buka puasa dengan kolak pisang dan es buah. Lalu, sambil menunggu azan Maghrib, Anda buka media sosial. Tiba-tiba, jari Anda sudah nge-scroll tanpa henti selama satu jam. Anda tidak sadar sudah melewati waktu makan, shalat Maghrib hampir ketinggalan, dan yang lebih parah, tanpa sengaja Anda like postingan mantan pacar dari 10 tahun lalu yang sekarang sudah punya anak tiga. Tenang, Anda tidak sendiri. Selamat datang di era di mana lapar mata lebih parah dari lapar perut!
Bulan Ramadhan adalah madrasah pelatihan diri. Kita berpuasa menahan lapar, haus, dan hawa nafsu. Tapi, bagaimana dengan "nafsu digital" kita? Apakah puasa kita juga berarti kita harus "berhenti" bermedia sosial? Tentu tidak. Mari kita bahas bagaimana beretika digital di bulan suci ini agar ibadah kita makin berkah dan pahala tidak bocor percuma.
Waspada, Ada "Syahwat" Baru di Era Digital
Dulu, para ulama klasik seperti Imam Ar-Razi menjelaskan bahwa puasa bertujuan untuk mematahkan syahwat dan menekan hawa nafsu. Dulu syahwat mungkin soal makanan atau hal biologis. Sekarang? Syahwat itu menjelma menjadi bentuk baru, kebutuhan untuk mendapatkan validasi berupa like, komentar, dan share. Kecanduan scrolling tanpa henti atau FOMO (Fear of Missing Out) adalah bentuk "syahwat kontemporer" yang perlu kita kendalikan.
Data dari MUI Jawa Timur menyebutkan, rata-rata pengguna media sosial di Indonesia menghabiskan lebih dari 3 jam per hari hanya untuk scrolling timeline. Coba bayangkan, jika waktu tiga jam itu kita gunakan untuk tadarus Al-Qur'an, berapa banyak pahala yang bisa kita kumpulkan?
Etika Digital ala Islam
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
"Wahai
orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu
membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak
mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya
kamu menyesali perbuatanmu itu."
(QS.
Al-Hujurat: 6)
Hebatnya, ayat ini turun karena konteks komunikasi! Yaitu ketika sahabat Al-Walid bin Uqbah menyampaikan berita bohong (hoaks) kepada Rasulullah SAW tentang suatu kaum yang enggan membayar zakat. Di era digital, kita semua bisa menjadi penyampai berita. Maka, tabayyun (klarifikasi) adalah kewajiban. Satu klik share bisa jadi dosa jariyah jika ternyata itu hoaks.
Rasulullah SAW juga bersabda:
"Barang
siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata
baik atau diam."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini adalah etika digital paling utama. Jika tidak bisa berkata baik di kolom komentar, lebih baik diam. Jangan sampai puasa kita hanya mendapatkan lapar dan dahaga, karena lisan (atau jari di keyboard) tidak terjaga dari ghibah, gosip, dan ujaran kebencian.
Fenomena "Ramadhan Content Creator"
Di Indonesia dan dunia, tren "Ramadhan Content Creator" sedang naik daun. Banyak konten kreator yang membuat video bagi-bagi takjil atau santunan, lalu diunggah ke media sosial. Niatnya mulia, yaitu menginspirasi orang lain untuk berbuat baik.
Namun, kita perlu hati-hati dengan penyakit riya (pamer). Di Maroko, misalnya, para konten kreator dikecam karena mendokumentasikan momen pembagian sembako dengan cara yang dianggap mengeksploitasi penerima manfaat. Mereka lebih fokus pada reaksi dramatis penerima untuk mengejar engagement dan keuntungan, hingga melupakan esensi berbagi itu sendiri.
Bahkan di Arab Saudi, Mufti Besar Sheikh Abdul Aziz Al-Syaikh mengeluarkan fatwa yang mengingatkan umat agar tidak menyiarkan ibadah seperti shalat dan doa di media sosial. Beliau khawatir hal itu mengarah pada "syirik kecil" atau riya, di mana seseorang ingin dipuji karena ibadahnya. Sementara syarat diterimanya amal adalah ikhlas dan sesuai tuntunan Nabi.
Contoh Praktis Etika Digital di Bulan Ramadhan
Lalu, bagaimana cara kita bermedia sosial ala Muslim modern yang tetap keren dan tidak sia-siakan Ramadhan?
Digital Iftar (Buka Puasa Digital): Tetapkan "jam malam" untuk gadget. Misalnya, satu jam sebelum Maghrib, matikan data seluler. Fokus membantu di dapur atau bersiap ke masjid. Setelah Isya dan Tarawih, barulah boleh online untuk silaturahmi virtual atau mencari kajian.
Filter Konten: Jangan biarkan algoritma mengontrol Anda. Unfollow akun-akun yang menyebarkan gosip, fitnah, atau konten tidak bermanfaat. Sebaliknya, follow akun-akun dakwah, podcast kajian, atau platform yang membahas Al-Qur'an. Ganti kebiasaan scrolling Instagram dengan mendengarkan murottal di YouTube.
Tahan Jari dari Ghibah Digital: Ingat, ghibah tidak hanya terjadi di majelis pertemuan, tetapi juga di grup WhatsApp. Membicarakan keburukan orang lain melalui chat atau meme adalah dosa yang sama besarnya. Jika tidak bisa berkata baik di kolom komentar, lebih baik log out dan baca istighfar.
Saring Sebelum Sharing: Dapat info menakjubkan tentang "Keajaiban Ramadhan yang bikin Malaikat Jibril nangis"? Jangan langsung share. Cek dulu kebenarannya di situs resmi seperti Kominfo atau tanyakan ke ahli (ulama/ustadz). Ingat, menyebarkan hoaks adalah dosa besar karena bisa menyesatkan orang banyak.
Niatkan Ibadah: Jika Anda seorang konten kreator, niatkanlah setiap konten Ramadhan Anda sebagai sedekah jariyah. Buat konten yang mendidik, menenangkan, dan mengajak pada kebaikan. Jangan hanya mengejar views dan like, karena itu adalah keuntungan duniawi yang fana.
Rebut Kembali Kendali Diri
Ramadhan adalah satu-satunya bulan di mana setan dibelenggu. Ini artinya, godaan sekarang datangnya bukan dari setan, tapi dari hawa nafsu kita sendiri, termasuk hawa nafsu digital. Jika kita tidak bisa mengendalikan diri dari smartphone di bulan suci ini, lalu kapan lagi?
Mari jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk "digital detox". Bukan berarti anti-teknologi, tapi kita yang harus mengendalikan teknologi, jangan sampai teknologi yang mengendalikan kita.
Mulai sekarang, tantang diri Anda. Setiap kali tangan ingin meraih HP dan membuka media sosial tanpa tujuan, tanyakan pada diri: "Apakah ini akan mendekatkanku pada Allah, atau malah menjauhkan?" Jawabannya akan menentukan kualitas Ramadhan Anda tahun ini.
Selamat menunaikan ibadah puasa. Jaga lisan, jaga jari, raih takwa!
#RamadhanDigital #EtikaBermediaSosial #PuasaBukanCumaLapar #BijakBermedsos #SMPIslamKHAhmadBadjuri

Tidak ada komentar:
Posting Komentar