Ketika Ramadhan Mengajakku Merenung
Malam ini, di hari ke-17 Ramadhan, ketika separuh lebih bulan suci telah berlalu, hatiku tiba-tiba diliputi kegelisahan yang asing. Bukan kegelisahan karena lapar atau dahaga, itu sudah biasa. Bukan pula kegelisahan karena dosa, itu pun selalu ada. Tapi kegelisahan karena sebuah pertanyaan yang tiba-tiba menghujam relung jiwa yang paling dalam:
"Wahai diri, selama 17 hari ini, apa yang sesungguhnya kau kejar?"
Aku terdiam. Angin malam Ramadhan berhembus pelan, membawa bisikan-bisikan halus dari masa lalu. Aku teringat bagaimana selama ini aku begitu sibuk mengejar dunia, harta, pujian, pengakuan, dan segala gemerlapnya. Aku teringat bagaimana puasa ini kadang hanya kujadikan rutinitas tahunan, tanpa pernah meresapi pesan terdalamnya.
Lalu, dari keheningan malam yang pekat, sebuah suara lembut berbisik di hati, "Wahai hamba-Ku, sudahkah engkau belajar zuhud di bulan yang penuh berkah ini?"
Dan di sinilah aku, di hari ke-17 Ramadhan, duduk bersimpuh di sajadah usang, mencoba merenungi makna zuhud yang selama ini hanya kukenal sebagai kata asing dalam kitab-kitab tua.
Mengapa Zuhud Sering Disalahpahami?
Sebelum melangkah lebih jauh, izinkan aku meluruskan sebuah kekeliruan yang sudah telanjur mengakar di tengah masyarakat. Banyak orang mengira zuhud itu berarti hidup miskin, menjauhi harta, mengasingkan diri dari keramaian, dan mengenakan pakaian lusuh penuh tambalan. Mereka membayangkan seorang zahid sebagai sosok yang tinggal di gua, makan dedaunan, dan tidak peduli pada urusan dunia.
Imam Al-Ghazali rahimahullah dalam kitab agung Ihya' Ulumiddin membantah keras pemahaman keliru ini. Beliau berkata:
اعلم أنه قد يظن أن تارك المال زاهد وليس كذلك فإن ترك المال وإظهار الخشونة سهل على من أحب المدح بالزهد
"Ketahuilah, banyak orang mengira bahwa orang yang meninggalkan harta duniawi adalah orang yang zuhud. Padahal tidak mesti demikian. Pasalnya, meninggalkan harta dan berpenampilan 'buruk' itu mudah dan ringan saja bagi mereka yang berambisi dipuji sebagai seorang zahid.".
Betapa banyak kelompok rahib, kata Imam Al-Ghazali, yang mengonsumsi sedikit makanan setiap harinya? Mereka juga mendiami padepokan tanpa pintu? Tetapi mereka mengharapkan perhatian masyarakat agar disebut sebagai kelompok yang zuhud. Padahal sikap demikian sama sekali tidak menunjukkan kezuhudan, karena kezuhudan dari harta duniawi tidak dapat dilepaskan dari kezuhudan yang berkaitan dengan ketenaran.
Lalu, apa sebenarnya hakikat zuhud itu?
Imam Al-Ghazali kemudian menjelaskan dengan indah:
وليس الزهد فقد المال وإنما الزهد فراغ القلب عنه ولقد كان سليمان عليه السلام في ملكه من الزهاد
"Zuhud bukan berarti ketiadaan harta duniawi. Zuhud merupakan kesucian hati dari (keterikatan pada) harta duniawi. Nabi Sulaiman 'alaihissalam sendiri di tengah gemerlap kekuasaannya tetap tergolong orang yang zuhud.".
Subhanallah! Nabi Sulaiman 'alaihissalam, raja terbesar yang pernah hidup di muka bumi, dengan istana megah, pasukan jin dan manusia, serta kekayaan yang melimpah ruah, justru disebut sebagai orang yang zuhud. Ini membuktikan bahwa zuhud sama sekali tidak identik dengan kemiskinan. Zuhud adalah kondisi batin, bukan kondisi lahiriah. Zuhud adalah kesucian hati dari ambisi dan keterikatan pada dunia, meskipun tangan sedang menggenggamnya.
Dalam sebuah pengajian menyambut Ramadhan 1447 H di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Ustadz Muhammad Ainul Yaqin menyampaikan definisi yang sangat mencerahkan:
"Zuhud adalah ketika tanganmu menggenggam dunia, namun hatimu tetap terpaut pada akhirat. Ini adalah kunci ketenangan batin dalam menyambut bulan penuh berkah.".
Maka, zuhud bukan berarti tidak boleh kaya. Zuhud bukan berarti tidak boleh sukses. Zuhud bukan berarti harus meninggalkan profesi dan mengasingkan diri. Zuhud adalah sikap hati yang tidak membiarkan dunia menguasai dirinya. Ia memiliki harta, tapi harta tidak memilikinya. Ia bekerja keras, tapi tidak lupa diri. Ia menikmati karunia Allah, tapi tidak terbudak olehnya.
Mengapa Ramadhan adalah Sekolah Zuhud yang Sempurna?
Saudaraku seperjalanan, di bulan Ramadhan ini, kita semua tanpa sadar sedang dilatih untuk menjadi orang-orang yang zuhud. Coba renungkan:
Setiap hari, dari terbit fajar hingga terbenam matahari, kita diperintahkan untuk meninggalkan sesuatu yang halal dan kita butuhkan, makanan, minuman, dan hubungan suami-istri. Ini adalah latihan zuhud tingkat dasar. Kita belajar bahwa ada sesuatu yang lebih berharga daripada kepuasan nafsu sesaat, yaitu ridha Allah.
Di siang hari yang panas, ketika perut keroncongan dan tenggorokan kering, kita diajak merasakan bagaimana rasanya tidak memiliki. Ini adalah pengalaman langsung menjadi "fakir" di hadapan Allah. Kita sadar bahwa selama ini kita terlalu bergantung pada makanan dan minuman, padahal sumber segala nikmat adalah Allah semata.
Di malam hari, ketika berbuka dengan kurma dan air putih sederhana, kita belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari kemewahan. Seteguk air di saat berbuka terasa lebih nikmat daripada segelas jus mahal di hari biasa. Inilah pelajaran zuhud, bahwa kesederhanaan bisa membawa kebahagiaan yang hakiki.
Bahkan dalam hal ibadah, Ramadhan mengajarkan kita untuk tidak "rakus" secara spiritual. Shalat Tarawih yang dikerjakan dengan khusyuk, tadarus Al-Qur'an yang dibaca dengan tartil, doa-doa yang dipanjatkan dengan linangan air mata, semua ini melatih kita untuk menikmati ibadah, bukan sekadar mengejar pahala.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits yang sangat terkenal:
ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ
"Berzuhudlah terhadap dunia, niscaya
Allah akan mencintaimu. Dan berzuhudlah terhadap apa yang ada di
tangan manusia, niscaya manusia akan mencintaimu."
(HR.
Ibnu Majah, At-Tabrani, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim) .
Hadits ini mengajarkan bahwa zuhud memiliki dua dimensi: zuhud pada dunia yang akan mendatangkan cinta Allah, dan zuhud pada apa yang dimiliki manusia yang akan mendatangkan cinta manusia. Ketika kita tidak silau dengan harta orang lain, tidak iri dengan kesuksesan tetangga, tidak dengki dengan prestasi teman, maka hati manusia akan merasa tenang di dekat kita. Kita tidak lagi menjadi ancaman bagi mereka.
Tiga Tanda Zuhud dalam Hati
Imam Al-Ghazali, sang Hujjatul Islam, menyebutkan tiga tanda bahwa seseorang telah mencapai maqam zuhud dalam hatinya. Marilah kita renungkan satu per satu, sambil bertanya pada diri sendiri, sudahkah ini ada dalam diriku?
1. Tidak Terpengaruh oleh Ada dan Tiadanya Harta
العلامة الأولى أن لا يفرح بموجود ولا يحزن على مفقود كما قال تعالى لكيلا تأسوا على ما فاتكم ولا تفرحوا بما آتاكم
"Tanda pertama, tidak berbangga ketika memiliki harta dan tidak bersedih ketika kehilangan harta, sebagaimana firman Allah, 'Agar kalian tidak putus asa atas harta yang luput dan tidak berbangga dengan apa yang Allah berikan kepada kalian,' (QS. Al-Hadid: 23).".
Di bulan Ramadhan ini, kita dilatih untuk melepaskan keterikatan pada makanan. Ketika waktu berbuka tiba, kita bersyukur. Ketika sahur hanya dengan nasi seadanya, kita tetap bersemangat berpuasa. Kita tidak terlalu berbangga dengan hidangan meja, tidak pula terlalu bersedih dengan kesederhanaan. Bukankah ini latihan zuhud yang sempurna?
2. Tidak Terpengaruh oleh Pujian dan Hinaan
العلامة الثانية أن يستوى عنده ذامه ومادحه
"Tanda kedua, orang yang menghina dan memujinya sama saja baginya." .
Ah, ini yang paling berat! Siapa di antara kita yang tidak senang dipuji? Siapa yang tidak kecewa ketika dicela? Padahal, kata Imam Al-Ghazali, tanda pertama berkaitan dengan zuhud pada harta, sedangkan tanda kedua berkaitan dengan zuhud pada kepangkatan dan wibawa.
Di bulan Ramadhan, kita berpuasa karena Allah, bukan karena ingin dipuji orang. Ketika ada yang memuji kita "Wah, rajin sekali puasanya, ya?" kita tidak lantas berbangga hati. Ketika ada yang mencela "Puasa kok masih marah-marah?" kita tidak lantas patah semangat. Yang penting adalah niat kita karena Allah.
3. Merasakan Kenikmatan Ibadah
العلامة الثالثة أن يكون أنسه بالله تعالى والغالب على قلبه حلاوة الطاعة
"Tanda ketiga, merasa senang dengan Allah yang ditandai dengan kenikmatan ibadah dalam hatinya.".
Inilah puncak zuhud, ketika seseorang tidak lagi mencari kenikmatan dari dunia, karena ia telah menemukan kenikmatan yang jauh lebih besar dalam ibadah. Shalat malam yang tadinya terasa berat, kini menjadi kerinduannya. Tadarus Al-Qur'an yang dulu membosankan, kini menjadi penyejuk jiwanya. Dzikir yang terasa hambar, kini menjadi teman setianya.
Di penghujung Ramadhan, kita semua diajak merasakan kenikmatan ini. Sepuluh malam terakhir adalah kesempatan emas untuk menemukan manisnya ibadah, untuk merasakan betapa indahnya berduaan dengan Allah di keheningan malam.
Kisah-Kisah Zuhud yang Menggugah
Nabi di Atas Tikar Jerami
Suatu ketika, Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu memasuki kamar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau melihat Baginda Nabi berbaring di atas tikar jerami yang kasar, hingga meninggalkan bekas di tubuhnya yang mulia. Di sudut ruangan, hanya ada segenggam kurma dan beberapa lembar kulit. Melihat pemandangan itu, Umar tidak kuasa menahan tangis.
"Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar memudahkan rezeki untuk kita. Bukankah bangsa Persia dan Romawi hidup bergelimang kemewahan?" ujar Umar.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab dengan tenang:
أَوَ فِي شَكٍّ أَنْتَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ؟ أُولَئِكَ قَوْمٌ عُجِّلَتْ لَهُمْ طَيِّبَاتُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
"Apakah engkau ragu, wahai putra Khattab? Mereka adalah kaum yang telah disegerakan kesenangan mereka di dunia."
Kemudian beliau bersabda:
مَا لِي وَلِلدُّنْيَا؟ مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
"Apa urusanku dengan dunia? Aku di dunia
ini hanyalah seperti seorang musafir yang berteduh di bawah pohon,
lalu beristirahat sejenak, kemudian pergi meninggalkannya."
(HR.
At-Tirmidzi).
Subhanallah... Inilah teladan zuhud yang sesungguhnya. Bukan berarti tidak boleh kaya, tapi menjadikan dunia hanya sebagai persinggahan, bukan tujuan akhir. Bukan berarti tidak boleh menikmati karunia Allah, tapi tidak terbudak olehnya.
Imam Malik: Kaya Raya Namun Zuhud
Imam Al-Ghazali juga menceritakan tentang kezuhudan Imam Malik rahimahullah. Beliau adalah ulama besar yang kaya raya dan dermawan. Namun kekayaannya tidak sedikit pun membuat hatinya terikat pada dunia. Beliau tetap rendah hati, tetap sederhana dalam keseharian, dan tidak pernah silau dengan gemerlapnya harta.
Ini membuktikan bahwa zuhud tidak harus miskin. Seorang konglomerat bisa saja lebih zuhud daripada seorang pemulung, jika hatinya bersih dari keterikatan pada dunia. Sebaliknya, seorang pemulung bisa saja sangat "duniawi" jika hatinya terus menerus membayangkan kekayaan dan iri pada orang lain.
Zuhud di Era Modern
Saudaraku seperjalanan, di era modern ini, sikap zuhud justru semakin mendesak untuk kita miliki. Mengapa? Karena tantangan zaman semakin berat. Hedonisme, konsumerisme, dan materialisme merambah ke segala lini kehidupan, terutama di kalangan generasi muda.
Penelitian tentang urgensi zuhud di zaman kontemporer menunjukkan bahwa gaya hidup hedonis menyebabkan berbagai dampak negatif, mulai dari pergaulan bebas, maraknya penyalahgunaan obat-obatan terlarang, tawuran remaja, dan berbagai perilaku menyimpang lainnya. Sikap zuhud menjadi benteng yang melindungi generasi muda dari arus negatif ini.
Dalam konteks kehidupan bernegara, sikap zuhud juga sangat relevan. Penelitian tentang ASN (Aparatur Sipil Negara) di Kementerian Agama Tanjungbalai menunjukkan bahwa dengan zuhud, seseorang dapat mengendalikan diri dari perbuatan haram. Jika seseorang mampu menjalani gaya hidup zuhud, maka ia tidak akan melakukan korupsi meskipun ada kesempatan, karena hatinya dipenuhi cinta dan pengawasan Allah.
Seorang pegawai yang zuhud akan bekerja keras dengan ikhlas, profesional, dan menjauhi suap, manipulasi, korupsi, atau menindas yang lemah. Keberadaannya akan memberikan kedamaian dan kebahagiaan bagi orang lain dan lingkungannya.
Di Aceh Besar, para Teungku Dayah (pimpinan pesantren) mengajarkan nilai-nilai zuhud kepada santri-santrinya dengan cara mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari dengan selalu menjaga kesederhanaan, senantiasa bersabar dalam menghadapi ujian, tidak mudah mengeluh meskipun dihadapkan pada berbagai problema era modern, dan senantiasa berbagi kepada yang membutuhkan dengan mengambil dunia seperlunya.
Inilah zuhud yang dinamis, zuhud yang tidak lari dari dunia, tapi justru hadir di tengah dunia untuk memberikan solusi.
Praktik Zuhud di Sisa Ramadhan
Saudaraku, kita masih memiliki separuh perjalanan Ramadhan. Masih ada waktu untuk belajar zuhud lebih dalam. Izinkan aku berbagi beberapa praktik sederhana yang bisa kita lakukan di sisa hari-hari mulia ini:
1. Makan Secukupnya, Tidak Berlebihan
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ
"Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya." (HR. At-Tirmidzi).
Di bulan Ramadhan, ironisnya banyak orang justru makan lebih banyak dari biasanya. Sahur dan berbuka disantap dengan porsi berlebihan, seolah-olah balas dendam setelah seharian lapar. Padahal ini bertentangan dengan semangat Ramadhan. Mari kita makan secukupnya, menyisakan ruang di perut untuk ibadah, bukan untuk kekenyangan yang membuat malas shalat.
2. Tidak Menyia-nyiakan Makanan
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan untuk menghabiskan makanan, bahkan menjilat jari-jari yang digunakan makan, karena kita tidak tahu di bagian mana keberkahan itu berada. Praktik ini mengajarkan kita untuk menghargai nikmat Allah, tidak menyia-nyiakannya dengan membuang makanan.
3. Mengundang Fakir Miskin Berbuka
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ
"Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut." (HR. At-Tirmidzi).
Mengundang fakir miskin untuk berbuka di rumah kita adalah praktik zuhud yang indah. Kita belajar untuk berbagi, sekaligus belajar dari mereka tentang kesederhanaan dan rasa syukur.
4. Mengendalikan Pandangan dari Gemerlap Dunia
Setiap kali melihat sesuatu yang duniawi yang membuat kita lalai dari Allah, para sufi mengajarkan untuk menundukkan pandangan dan mengucapkan "Subhanallah". Ini adalah latihan untuk mengembalikan kesadaran bahwa dunia ini hanya sementara, dan yang kekal hanyalah Allah.
5. Memperbanyak Dzikir dan Tadabbur Al-Qur'an
Al-Qur'an adalah sumber zuhud tertinggi. Allah berfirman:
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ
"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk khusyuk hati mereka mengingat Allah?" (QS. Al-Hadid: 16).
Perbanyak membaca Al-Qur'an dengan tadabbur, meresapi maknanya, dan biarkan ayat-ayat itu membersihkan hati dari debu-debu dunia.
Mari Menjadi Zahid di Era Modern
Saudaraku yang dicintai Allah,
Kita telah berada di hari ke-17 Ramadhan. Masih ada sekitar 13 atau 14 hari lagi. Jangan biarkan sisa hari ini berlalu begitu saja. Mari jadikan momentum ini untuk belajar zuhud yang sesungguhnya:
Pertama, bersihkan hati dari kecintaan berlebihan pada dunia. Mulailah dengan hal-hal kecil, tidak sedih ketika kehilangan barang kesayangan, tidak terlalu berbangga ketika mendapatkan pujian, tidak iri ketika melihat keberhasilan orang lain.
Kedua, perbanyak bersedekah. Sedekah adalah bukti nyata bahwa kita tidak terikat pada harta. Semakin banyak kita memberi, semakin lapang hati kita, dan semakin kita merasakan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah pada menumpuk, tapi pada berbagi.
Ketiga, perbanyak istighfar dan taubat. Akui bahwa selama ini kita terlalu mencintai dunia, terlalu sibuk dengan gemerlapnya, dan terlalu lalai dari mengingat Allah. Mohon ampunan-Nya, dan bertekad untuk berubah.
Keempat, perbanyak doa. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan doa:
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا
"Ya Allah, jangan jadikan dunia sebagai kegelisahan terbesar kami, dan jangan jadikan dunia sebagai puncak pengetahuan kami."
Kelima, perbanyak zikir. Jadikan lisan ini basah dengan dzikir, agar hati ini senantiasa terhubung dengan-Nya. Karena zuhud pada akhirnya adalah soal koneksi, seberapa kuat kita terhubung dengan Allah, selemah itulah keterikatan kita pada dunia.
Saudaraku, seorang bijak pernah berkata: "Dunia ini bagaikan air laut. Semakin banyak kau meminumnya, semakin haus kau jadinya. Dan semakin haus, semakin banyak pula kau ingin meminumnya. Pada akhirnya, kau akan tenggelam di dalamnya."
Jangan biarkan dunia menenggelamkan kita. Jadilah seperti Nabi Sulaiman 'alaihissalam yang menggenggam dunia namun hatinya tetap di 'Arasy. Jadilah seperti Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang menjadikan dunia hanya persinggahan. Jadilah seperti para sahabat dan ulama saleh yang kaya raya namun hati mereka lebih kaya dengan cinta kepada Allah.
Ramadhan adalah madrasah zuhud. Mari kita manfaatkan sisa hari-hari ini untuk lulus dari madrasah ini dengan predikat terbaik. Karena kelak, di hadapan Allah, yang paling mulia bukanlah yang paling banyak hartanya, tapi yang paling bersih hatinya.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang zuhud. Yang tangannya boleh menggenggam dunia, namun hatinya tetap terpaut pada-Mu. Yang boleh menikmati karunia-Mu, namun tidak pernah lupa bahwa semua ini titipan. Yang boleh sukses di dunia, namun tidak melupakan kampung akhirat yang kekal abadi. Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Wallahu a'lam bish-shawab.
#ZuhudDiRamadhan #TasawufRamadhan #HatiBersihDuniaBerkah #BelajarZuhud #SMPIslamKHAhmadBadjuri

Tidak ada komentar:
Posting Komentar