Ketika Kyai Bertanya di Malam Jumat
Malam ini, di Ramadhan hari ke-23, selepas shalat tarawih dan witir, seperti biasa kami para santri Pondok Pesantren MADU (Ma'dinul Ulum) KH. Ahmad Badjuri berkumpul di ruang Ndalem untuk mendengarkan mauidhoh hasanah dari Abah Kyai H. Ali Masykur Badjuri. Udara malam terasa sejuk, angin berhembus pelan membawa aroma daun kelapa dari kebun belakang pondok. Lampu tempel di halaman depan masih menyala temaram, menciptakan suasana yang syahdu.
Abah Kyai duduk di antara kami dengan sorban putih melingkar di pundak. Beliau memandang kami satu per satu, lalu bertanya dengan suara pelan tapi menggetarkan:
"Santri-santriku... coba jawab, siapa di antara kalian yang masih menyimpan rasa kesal terhadap teman sekamar? Siapa yang masih belum bisa melupakan kesalahan saudaranya di pondok ini? Angkat tangan..."
Suasana tiba-tiba hening. Tidak ada yang berani mengangkat tangan. Tapi saya tahu, di dalam hati masing-masing, mungkin ada yang menjawab berbeda. Termasuk saya.
Abah Kyai tersenyum bijak. Beliau tahu kami tidak akan jujur. Lalu beliau membuka Al-Qur'an dan membaca ayat yang sering beliau ulang-ulang setiap menjelang Idul Fitri:
"Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A'raf: 199)
"Santriku," lanjut Abah Kyai, "kalian akan pulang ke rumah masing-masing dalam hitungan hari. Kalian akan bertemu orang tua, saudara, tetangga. Tapi sebelum kalian bertemu mereka, selesaikan dulu urusan kalian dengan teman di sini. Jangan bawa pulang dendam. Jangan bawa pulang rasa kesal. Karena Idul Fitri itu bukan hanya tentang baju baru dan ketupat. Idul Fitri adalah tentang hati yang kembali fitri."
Malam itu, saya tidak bisa tidur. Pikiran saya melayang pada kejadian tiga bulan lalu, saat saya bertengkar hebat dengan teman sekamar saya. Hanya gara-gara sandal jepit yang raib.
Sandal Jepit dan Hati yang Menggumpal
Ceritanya sederhana, mungkin terdengar kekanak-kanakan. Tapi di pondok, hal-hal kecil bisa jadi besar. Waktu itu, setelah shalat Ashar berjamaah di Masjid, saya mencari sandal jepit kesayangan pemberian Ibu, tapi tidak ada di rak. Saya cari ke sana kemari, tidak ketemu. Lalu saya lihat teman saya memakai sandal yang mirip. Tanpa pikir panjang, saya teriak,
"Hei! Itu sandalku, ya!"
Teman saya kaget. "Ini sandalku. Beli di Toko Soraya minggu lalu."
Saya ngotot. Dia ngotot. Perang mulut pun tak terhindarkan. Saling ejek, saling sindir, sampai hampir adu jotos. Beruntung teman-teman lainnya segera melerai. Sejak saat itu, kami tidak saling sapa. Satu kamar, tapi seperti ada tembok pemisah.
Esok harinya, sandal saya ditemukan di bawah dipan, nyasar entah bagaimana. Tapi gengsi membuat saya tidak mau minta maaf. Lagipula, pikir saya, dia juga salah karena sandalnya mirip. Iya kan?
Tiga bulan berlalu. Ramadhan datang dan pergi hingga hari ke-23. Dan malam ini, setelah Abah Kyai bertanya, hati saya terasa berat. Sangat berat.
Malam Ke-23 dan Pintu Maaf yang Terbuka
Teman-teman, di Pondok MADU, kami diajarkan bahwa malam-malam ganjil di sepuluh terakhir Ramadhan itu istimewa. Malam ke-21, 23, 25, 27, 29 adalah malam-malam yang di dalamnya tersembunyi Lailatul Qadar. Dan malam ke-23 ini, kata Abah Kyai, adalah malam yang baik untuk memohon ampunan dan membersihkan hati.
Dalam sebuah hadits yang sering beliau kutip, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Tapi Abah Kyai selalu mengingatkan, dosa yang diampuni dalam hadits ini adalah dosa kepada Allah. Sedangkan dosa kepada sesama manusia, urusannya berbeda. Itu harus diselesaikan dengan saling memaafkan.
Beliau juga sering membacakan ayat tentang maaf, salah satunya dari Surat Ali Imran ayat 134 yang menjadi favorit beliau:
الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
"(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan." (QS. Ali 'Imran: 134)
Ayat ini selalu menggetarkan hati saya. Terutama bagian wal 'aafina 'anin naas, dan memaafkan kesalahan orang lain. Tiga bulan saya menahan marah. Tiga bulan saya memelihara dendam. Tapi setelah mendengar ayat ini lagi, saya bertanya pada diri sendiri: "Untuk apa semua ini? Apa gunanya?"
Kisah Malam Itu Air Mata di Kamar
Malam itu, setelah Abah Kyai selesai memberi mauidhoh, kami kembali ke kamar masing-masing. Kamar tempat saya dan Ahmad bernaung bersama santri-santri lainnya. Suasana hening. Semua terdiam, mungkin masing-masing merenung.
Saya duduk di dipan, memandang punggung teman yang membelakangi saya. Tiba-tiba, tanpa direncanakan, mulut saya terbuka:
"Ahm... gue mau ngomong."
Teman saya menoleh. Matanya sayu, seperti habis menangis. "Iya, ada apa?"
"Gue... gue minta maaf ya. Atas kejadian tiga bulan lalu. Sandal itu... gue yang salah. Nyasar di bawah dipan gue. Maafin gue."
Teman saya tidak langsung menjawab. Matanya berkaca-kaca. Lalu dengan suara bergetar, ia berkata:
"Lo kira cuma lo yang salah? Gue juga salah. Harusnya gue nggak bawa emosi. Harusnya gue ngerti sandal lo itu pemberian ibu lo. Maafin gue juga, ya."
Kami berdua terdiam. Lalu tiba-tiba, tanpa saling bicara, kami berjalan mendekat dan berpelukan. Air mata pecah. Teman-teman sekamar yang menyaksikan juga ikut menangis. Malam itu, di Kamar Putra Pondok MADU, ada tangisan yang bukan tangisan sedih. Tapi tangisan lega. Tangisan bahagia.
Gus Ibnu, salah satu pengasuh putra yang kebetulan lewat, mendengar keributan dan masuk. Melihat kami berpelukan, beliau tersenyum dan berkata,
"Nah, gini dong santri MADU. Jagoannya bukan cuma di kitab, tapi juga di hati."
Kami semua tertawa. Tapi hati ini rasanya plong luar biasa.
Apa Kata Al-Qur'an dan Hadits tentang Memaafkan?
Sejak malam itu, saya jadi lebih rajin membaca kitab-kitab tentang keutamaan memaafkan. Di pondok, kami punya kajian tafsir setiap ba'da Subuh menggunakan Tafsir Al-Mishbah karya Prof. Quraish Shihab. Saya jadi teringat penjelasan beliau tentang kata maaf dalam Al-Qur'an yang berasal dari al-afwu, yang berarti menghapus. Menghapus sampai tidak ada bekasnya. Seperti kita menghapus tulisan di papan tulis sampai bersih.
Saya juga belajar dari Ning Salma, guru hadits kami, bahwa dalam Al-Qur'an, ada perintah untuk memberi maaf tanpa harus menunggu diminta. Beliau mengutip Surat An-Nur ayat 22:
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Ning Salma menjelaskan, ayat ini mengajarkan rumus sederhana, Jika kita ingin diampuni Allah, maafkanlah orang lain. Ini seperti investasi akhirat. Kita memberi maaf, Allah membalas dengan ampunan.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda dalam hadits yang sangat terkenal:
وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا
"Dan tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba dengan pemberian maafnya melainkan kemuliaan." (HR. Muslim)
Saya merasakan sendiri kebenaran hadits ini. Setelah memaafkan Teman tadi, saya tidak merasa hina atau kalah. Justru hati ini terasa mulia. Terasa besar. Terasa ringan.
Tradisi Sungkeman dan Pelajaran dari Gus Haqi
Di Pondok MADU, kami memiliki tradisi unik menjelang Idul Fitri. Sehari sebelum pulang, seluruh santri berkumpul di aula untuk melakukan sungkeman kepada Abah Kyai, para ustadz, dan pengasuh. Kami bergantian bersalaman, mencium tangan, dan memohon maaf.
Tahun lalu, saat sungkeman, Gus Haqi, putra Abah Kyai yang juga pengasuh, berkata kepada kami:
"Santri-santriku, kalau kalian pulang nanti, jangan hanya sungkem sama orang tua. Tapi sungkem juga sama hati kalian sendiri. Tanya, apa masih ada yang mengganjal? Apa masih ada yang belum dimaafkan? Karena Idul Fitri yang sesungguhnya adalah ketika kalian pulang dengan hati yang bersih, bukan cuma bawa oleh-oleh."
Kata-kata itu selalu saya ingat. Dan malam ini, di hari ke-23 Ramadhan, saya merasa perlu melakukan "sungkeman batin" untuk semua orang yang pernah saya sakiti, dan juga untuk semua orang yang pernah menyakiti saya.
Termasuk teman-teman di pondok yang mungkin tanpa sengaja pernah membuat saya kesal. Termasuk kakak kelas yang kadang galak. Termasuk adik kelas yang kadang bandel. Saya maafkan semuanya. Saya lepaskan.
Semangat Memaafkan di Indonesia
Setelah kejadian itu, saya iseng-iseng searching di perpustakaan pondok tentang kata maaf di Indonesia. Ternyata menarik! Indonesia itu juara dalam hal semangat bermaaf-maafan. Tradisi halalbihalal, yang mungkin tidak ada di negara Muslim lain, di sini menjadi budaya yang sangat kuat.
Berdasarkan penelitian para sosiolog, tradisi halalbihalal pertama kali dipopulerkan oleh Presiden Soekarno sebagai ajang silaturahmi para tokoh bangsa setelah Idul Fitri. Tujuannya mulia, menyatukan kembali bangsa yang sempat terpecah belah. Dari situ, tradisi ini menyebar ke masyarakat luas dan menjadi ciri khas Lebaran Indonesia.
Di pondok kami, tradisi halalbihalal diadakan setiap tahun. Semua santri berkumpul, saling bersalaman, saling memaafkan. Bahkan dengan teman yang kita musuhi setahun penuh, di momen ini semua luluh. Ini ajaib! Hanya di Indonesia, mungkin hanya di pondok pesantren, orang bisa setahun bermusuhan lalu dalam lima menit berpelukan dan menangis bersama.
Gus Mukhlis bilang, ini adalah rahasia bangsa kita. "Indonesia itu kuat karena masyarakatnya mudah memaafkan. Jangan sampai kita hilangkan budaya ini," pesannya.
Memaafkan Sebelum Diminta
Satu hal lagi yang saya pelajari dari kajian tafsir ba'da Subuh adalah tentang kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ceritanya, setelah peristiwa fitnah terhadap Aisyah, putri Abu Bakar, beliau bersumpah untuk tidak lagi memberi bantuan kepada Misthah, kerabatnya yang ikut menyebarkan fitnah.
Tapi kemudian turun ayat Surat An-Nur ayat 22 yang tadi saya sebutkan. Allah memerintahkan Abu Bakar untuk memaafkan dan melapangkan dada. Dan Abu Bakar, dengan keimanannya, langsung memaafkan dan bahkan menambah bantuannya kepada Misthah.
Ustadz Ahmad menjelaskan, ini adalah tingkatan maaf yang tertinggi. Bukan hanya memaafkan ketika diminta, tapi memaafkan sebelum diminta. Bahkan setelah memaafkan, masih berbuat baik kepada orang yang pernah bersalah.
Saya merenung, apakah saya bisa seperti Abu Bakar? Mungkin belum. Tapi setidaknya saya mulai belajar. Memaafkan teman tanpa dia minta maaf dulu adalah langkah kecil. Tapi rasanya... luar biasa.
Pesan Abah Kyai di Penghujung Ramadhan
Selepas shalat Subuh tadi, Abah Kyai memberi tausiyah singkat. Beliau berpesan:
"Santriku, kalian akan pulang beberapa hari lagi. Di rumah nanti, mungkin kalian bertemu dengan orang tua yang kadang marah-marah. Bertemu dengan saudara yang suka jail. Bertemu tetangga yang suka ngomongin. Jangan lawan. Jangan balas. Tapi maafkan. Karena orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling banyak memaafkan."
Beliau lalu mengutip hadits riwayat Ahmad:
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ كُلُّ مَلْطَأٍ عَلَى نَفْسِهِ الْمُتَحَابِّينَ فِي اللَّهِ
"Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang penduduk surga yang paling utama? Mereka adalah orang yang selalu memaafkan, dan mereka yang saling mencintai karena Allah."
Mendengar itu, kami semua terdiam. Dalam hati masing-masing, kami bertekad untuk menjadikan Idul Fitri tahun ini sebagai momentum memulai hidup baru. Hidup dengan hati yang bersih. Hidup tanpa dendam. Hidup dengan maaf.
Pulanglah dengan Hati yang Bersih
Teman-teman, saudara-saudaraku yang mungkin membaca curhatan santri ini,
Kita telah memasuki hari ke-23 Ramadhan. Artinya, hanya tinggal hitungan jari kita akan berpisah dengan bulan mulia ini. Sebentar lagi kita akan merayakan Idul Fitri, hari kemenangan. Tapi ingatlah, kemenangan sejati bukanlah ketika kita bisa memakai baju baru atau makan ketupat opor. Kemenangan sejati adalah ketika kita bisa keluar dari Ramadhan dengan hati yang bersih.
Jika ada teman, saudara, atau siapa pun yang pernah menyakiti kalian, maafkanlah. Jangan tunggu mereka minta maaf. Jadilah pemenang dengan memberi maaf terlebih dahulu. Karena dengan memaafkan, kalian sedang membebaskan diri sendiri dari penjara dendam.
Jika kalian sendiri yang pernah bersalah kepada orang lain, jangan tunda lagi. Minta maaflah sekarang. Meskipun terasa berat, meskipun gengsi menghadang. Karena kematian tidak pernah menunggu kita selesai bermaaf-maafan.
Di Pondok MADU, kami punya jargon: "Madu itu manis, tapi lebih manis lagi hati yang saling memaafkan."
Mari kita jadikan Idul Fitri tahun ini sebagai momentum untuk benar-benar kembali ke fitrah. Fitrah yang suci, bersih, tanpa noda dendam. Seperti kata Abah Kyai:
"Santriku, kalau kalian pulang nanti, jangan cuma bawa oleh-oleh makanan. Tapi bawa oleh-oleh hati yang bersih. Itu hadiah terbaik untuk orang tua kalian."
Selamat menyongsong Idul Fitri. Dari saya, santri MADU KH. Ahmad badjuri, mohon maaf lahir dan batin. Minal 'aidin wal faizin.
Wallahu a'lam bish-shawab.
#SantriMADUBerkah #MemaafkanSebelumLebaran #IdulFitriHatiBersih #RamadhanDiPondok #SMPIslamKHAhmadBadjuri

Tidak ada komentar:
Posting Komentar