Kamis, 05 Maret 2026

Parenting Islami di Ramadhan

Ramadhan Hari ke-15 dan PR Besar dari Orang Tua

Hari ini kita sudah memasuki Ramadhan hari ke-15. Artinya, puasa sudah setengah jalan. Tapi tahu nggak, kalau buat saya, setengah jalan ini justru jadi momen yang agak... deg-degan. Kenapa? Soalnya biasanya di pertengahan Ramadhan begini, semangat puasa mulai kendor, tapi semangat orang tua buat "mendidik" saya malah naik drastis!

Malam ini, usai shalat tarawih yang lumayan bikin ngantuk, Papa memanggil saya dan adik. Wajahnya serius. "Alya, Nak. Kita sudah setengah Ramadhan. Papa mau evaluasi ibadah kalian berdua."

Adik saya yang masih kelas 4 SD langsung tegang. Saya? Dalam hati udah siap-siap dengan berbagai alasan kenapa hari kemarin ketiduran sampai kelewatan Subuh.

Tapi ternyata... Papa tidak marah. Beliau malah duduk di samping kami, lalu mulai bercerita tentang masa kecilnya dulu. Tentang bagaimana Eyang Kakung (kakek) mendidik beliau puasa pertama kali. Tentang tangis dan tawanya saat belajar mengaji. Dan tentang satu hal yang membuat saya tersentuh, Papa bilang, mendidik anak itu berat, tapi beliau tidak mau menyerah.

Nah, dari situlah saya jadi penasaran. Sebenarnya, bagaimana sih cara orang tua mendidik anak yang benar menurut Islam? Apakah harus keras? Harus lembut? Harus ngasih hadiah? Atau gimana? Makanya, malam ini saya putuskan untuk menulis catatan kecil ini. Bukan sebagai ahli, tapi sebagai anak yang lagi belajar memahami orang tuanya.



Ketika Saya Masih Kecil dan "Puasa Setengah Hari"

Saya masih ingat, pertama kali belajar puasa itu usia 6 tahun. Waktu itu, saya cuma disuruh puasa sampai jam 10 pagi. Terus jam 10 boleh minum. Terus puasa lagi sampai jam 12. Terus jam 12 boleh makan. Pokoknya, puasa model "stop and go" gitu deh.

Dulu saya pikir itu karena Mama kasihan. Tapi ternyata, itu adalah metode yang diajarkan dalam Islam. Para ulama sepakat bahwa anak kecil yang belum baligh tidak diwajibkan puasa, tapi sangat dianjurkan untuk dilatih. Caranya ya bertahap. Ada hadits riwayat Imam Al-Bukhari yang menceritakan para sahabat melatih anak-anak mereka puasa dengan cara menghibur mereka pakai mainan:

"Kami biasa berpuasa pada Asyura, dan kami membiasakan berpuasa kepada anak-anak kami. Kami buatkan mainan dari bulu untuk mereka. Jika salah satu dari mereka menangis ingin makan, maka kami memberinya mainan itu sampai datang waktu berbuka." (HR. Al-Bukhari)

Bayangin, itu zaman Nabi lho! Udah ada mainan buat hiburan anak puasa. Jadi kalau orang tua sekarang kasih gadget buat ngalihin perhatian anak pas puasa, sebenarnya itu sunnah juga kali ya? Hehe. Asal jangan kelamaan mainnya.

Menurut dosen PIAUD Universitas Muhammadiyah Bandung, Ibu Isya Siti Aisyatul Mahmudah, anak secara medis sudah siap berpuasa di usia tujuh tahun. Tapi pengenalan bisa dimulai jauh lebih dini, sejak usia 3-4 tahun. Nah, Mama saya dulu kayaknya udah baca teori ini tanpa sadar. Beliau mulai ngajak saya "puasa mainan" sejak umur 4 tahun. Maksudnya, pas waktu dzuhur, mainan saya "diajak puasa" dulu, baru jam 3 boleh main lagi. Lucu sih kalau diingat-ingat.



Usia 7 Tahun, Mulai "Dikerjain"

Nah, masuk usia 7 tahun, ceritanya beda. Tiba-tiba Papa bilang, "Alya, sekarang kamu udah 7 tahun. Mulai tahun ini, puasanya full sampai Maghrib, ya. Tapi kalau nggak kuat, boleh minum, tapi coba usahakan jangan."

Saya waktu itu mikir, "Kok tegaan sih, Pa?"

Tapi ternyata, itu juga ajaran Islam. Dalam hadits riwayat Abu Daud, Rasulullah SAW bersabda:

"Perintahkanlah anak untuk shalat ketika ia mencapai usia tujuh tahun, dan ketika ia mencapai 10 tahun, maka pukullah dia karena (meninggalkan)nya."
(HR. Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi)

Para ulama mengatakan, hal yang sama juga berlaku untuk puasa. Artinya, usia 7 tahun adalah usia latihan intensif. Anak mulai diperintah dan dilatih menjalankan ibadah, agar terbiasa saat baligh nanti.

Untungnya, Papa tidak pernah mukul saya. Beliau lebih suka metode reward and punishment versi halal. Kalau saya berhasil puasa full seminggu, diajak jalan-jalan ke tempat wisata. Kalau bolong, ya nggak dapat reward. Adil banget.

Dr. Ainal Mardhiah, dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh, menyebutkan bahwa ada tujuh cara mendidik anak di bulan Ramadhan yang dicontohkan Rasulullah, yaitu keteladanan, pembiasaan, pengajaran, pengawasan, nasehat, reward and punishment, serta doa dan tawakkal. Nah, Papa saya kayaknya udah nerapin beberapa poin itu.



Usia 10-14 Tahun, "Pembantu" di Rumah?

Ada satu teori parenting yang baru saya tahu dari kajian Ramadhan di sekolah. Kata Ustadz Syamsul Ashri, Sayyidina Ali bin Abi Thalib membagi fase mendidik anak jadi tiga:

  1. Fase 0-7 tahun: Perlakukan anak seperti raja/ratu. Penuh kasih sayang, dimanjakan secara wajar.

  2. Fase 7-14 tahun: Perlakukan anak seperti pembantu atau tawanan. Diajari disiplin, tanggung jawab, dan aturan.

  3. Fase 14 tahun ke atas: Perlakukan anak sebagai teman. Ajak diskusi, hargai pendapatnya, jalin persahabatan .

Saya baca teori itu, lalu lihat ke belakang. Wah, ternyata Mama dan Papa secara nggak sadar udah nerapin ini!

Waktu saya kecil (fase raja/ratu), saya dimanja banget. Tapi pas masuk usia 7-14 tahun (fase pembantu), tiba-tiba saya disuruh bantu-bantu di rumah. Nyapu, ngepel, nyuci piring, bahkan sesekali dimasakin buat buka puasa. Dulu saya protes, "Kok saya jadi babu, sih?" Tapi Mama cuma senyum, "Ini buat bekal kamu nanti, Nak."

Dan benar, pas saya masuk usia 14 tahun, fase teman, perlakuan mereka berubah. Saya diajak diskusi. "Menurut Alya, menu buka puasa hari ini enaknya apa? Berapa budgetnya?" Saya diajari ngatur uang, diajak ngobrol tentang cita-cita, bahkan dikasih pendapat soal pertemanan di sekolah.

Hebat ya, Sayyidina Ali udah ngajarin ini 1400 tahun lalu. Parenting Islam itu ternyata nggak asal-asalan. Ada fase-fasenya.



Ramadhan Jadi Momen "Koreksi Diri" Orang Tua

Ngomong-ngomong soal parenting, saya jadi ingat pengalaman teman saya, Si Fulana (bukan nama sebenarnya). Orang tuanya terkenal keras. Setiap Ramadhan, dia dipaksa puasa full, dipaksa tarawih ke masjid, dan dimarahin kalau ketiduran pas subuh.

Tahun ini, pas Ramadhan hari ke-10, dia cerita sambil nangis. "Lya, gue capek. Bokap nyokap gue tuh kayak nggak ngerti kondisi gue. Disuruh ini itu, tapi mereka sendiri kadang nggak ngasih contoh. Bokap gue shalatnya kadang bolong, nyokap gue suka ngomongin orang. Kok gue yang disalahin?"

Nah, ini pelajaran penting. Kata Ustadz Syamsul Ashri, dalam mendidik anak, orang tua harus ingat hadits:

"Setiap manusia yang lahir, mereka lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani." (HR. Bukhari-Muslim)

Artinya, anak itu seperti kertas putih. Orang tua yang akan mewarnainya. Kalau orang tua mau anaknya rajin ibadah, ya harus kasih contoh dulu. Imam Al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah mengatakan:

"Lisan keadaan (keteladanan) itu lebih fasih dari pada lisan ucapan."

Maksudnya, contoh nyata lebih kuat daripada seribu kata-kata. Anak lebih mudah mengikuti perbuatan daripada omongan. Jadi kalau orang tua cuma nyuruh-nyuruh tapi nggak ngasih contoh, ya percuma.

Di sekolah kami, ada program parenting setiap Ramadhan. Biasanya ngundang ustaz buat kasih materi ke orang tua. Tahun ini temanya "Mengajarkan Anak Beribadah di Bulan Ramadhan". Kata Ibu Evi, salah satu wali murid, acara seperti ini penting banget karena orang tua jadi punya ilmu baru dalam mendidik anak.



Tips Parenting dari Pengamatan Seorang Anak

Setelah 15 hari ngintipin cara orang tua saya dan teman-teman mendidik anak, saya punya beberapa catatan. Ini bukan nasehat sok tahu, tapi sekadar pengamatan dari sudut pandang anak:

1. Jangan Paksa, Tapi Ajak

Bedanya tipis tapi efeknya beda jauh. "Kamu harus puasa!" vs "Ayo kita puasa sama-sama, sayang." Mana yang lebih mengena? Jelas yang kedua.

Dosen UIN Ar-Raniry bilang, orang tua harus melibatkan anak dalam aktivitas Ramadain, nyiapin sahur, ngatur meja buka, ikut tarawih bareng. Kalau dilibatkan, anak merasa dihargai, bukan diperintah.

2. Kasih Apresiasi, Nggak Perlu Mahal

Setiap kali saya berhasil puasa full seminggu, Mama selalu bilang, "Alhamdulillah, Alya hebat banget! Besok ditingkatkan lagi, ya." Kata-kata sederhana itu bikin saya semangat.

Penelitian dari Universitas Muhammadiyah Bandung menyebutkan, apresiasi itu penting, bahkan buat anak yang cuma berhasil puasa beberapa jam. Jangan nunggu sempurna baru dipuji.

3. Buat Ramadhan Jadi Fun

Teman saya yang paling semangat puasa itu ternyata punya orang tua kreatif. Di rumahnya ada "Kompetisi Ramadhan", siapa yang paling banyak baca Qur'an, dapat bintang. Nanti pas lebaran dihitung dan dapat hadiah. Ada juga "Good Deeds Jar", toples berisi kertas berisi tantangan kebaikan setiap hari.

Ketua PERSISTRI Kota Tangerang, Bunda Mardiah, juga menyarankan permainan karakter, boneka tangan, atau buku cerita bergambar tentang Islam. Intinya, orang tua harus kreatif. Jangan cuma nyuruh, tapi juga nyediain aktivitas seru.

4. Jangan Lupa Doa

Papa saya suka bilang, "Nak, orang tua itu cuma bisa usaha. Yang menentukan jadi anak saleh atau nggak, Allah." Habis itu beliau selalu doain saya usai shalat.

Dr. Ainal Mardhiah mengingatkan bahwa iman tak bisa diwarisi. Orang tua tidak punya kekuasaan memastikan anaknya saleh. Maka doa dan tawakkal itu wajib.

5. Perhatikan Kondisi Fisik Anak

Pas Ramadhan, kadang anak-anak dipaksa puasa padahal kondisi fisik nggak memungkinkan. Ulama sepakat, anak yang tidak mampu puasa tidak diwajibkan. Latihan boleh, tapi harus lihat kemampuan dan kekuatan anak.

Kalau anak mulai lemas, pucat, atau nggak fokus, sebaiknya puasa diakhiri. Kesehatan lebih penting.



Parenting di Berbagai Belahan Dunia

Penasaran nggak sih, gimana cara orang tua di negara lain mendidik anak di Ramadhan? Saya coba cari-cari info:

Di Inggris, banyak keluarga Muslim yang mengadakan Ramadan storytelling nights. Mereka bacakan cerita tentang Nabi dan sahabat, biar anak-anak paham sejarah Islam dengan cara seru.

Di Amerika, ada keluarga yang bikin Ramadan calendar khusus anak. Setiap hari ada kegiatan berbeda, hari ini bikin kartu ucapan untuk tetangga non-Muslim, besoknya baking kue kurma, lusa-nya belajar astronomi buat ngerti cara lihat hilal. Kreatif banget!

Di Mesir, tradisi Fanous (lentera Ramadhan) jadi momen seru buat anak-anak. Mereka keliling bawa lentera sambil nyanyi lagu-lagu Ramadhan. Orang tua mendampingi sambil ngajarin makna di balik tradisi itu.

Di Malaysia, banyak masjid yang ngadain Ramadhan camp buat anak-anak. Isinya tadarus, games Islami, dan belajar fiqih puasa dengan cara menyenangkan.

Di Indonesia sendiri, tren parenting Ramadhan makin kreatif. Ada yang bikin e-Ramadhan Tracker buat catat ibadah anak, ada yang ngadain fun science Ramadhan, eksperimen sains sederhana yang dihubungkan dengan ayat Al-Qur'an.

Penelitian di jurnal Mozaic menunjukkan bahwa pola asuh yang dominan dalam membentuk karakter religius anak adalah pola asuh demokratis. Orang tua mengajarkan, membiasakan, memperhatikan, dan memberi teladan baik dalam ibadah, akhlak, dan belajar . Nggak otoriter, nggak juga terlalu bebas.



Refleksi di Hari ke-15, Saatnya Evaluasi

Malam ini, setelah menulis panjang lebar, saya jadi mikir. Mungkin selama ini saya terlalu sibuk ngerasa "dipaksa" sama orang tua. Padahal, mereka cuma pengen yang terbaik. Mereka tahu, kalau bukan mereka yang ngajarin, siapa lagi? Mereka tahu, kalau bukan dari sekarang, kapan lagi?

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu." (QS. At-Tahrim: 6)

Maka, parenting Islami di Ramadhan itu sebenarnya adalah usaha orang tua menyelamatkan anak-anaknya dari api neraka. Bukan sekadar nyuruh puasa, tapi ngajarin arti pengorbanan. Bukan sekadar ngajak tarawih, tapi ngajarin kedekatan dengan Allah. Bukan sekadar nyuruh ngaji, tapi ngajarin bahwa Al-Qur'an itu pedoman hidup.

Sekarang saya paham. Papa yang tadi malam "memanggil" saya dan adik untuk evaluasi, sebenarnya bukan mau marah. Beliau cuma pengen mastiin bahwa kami baik-baik saja. Bahwa ibadah kami berjalan. Bahwa kami nggak tersesat di tengah jalan.

Dan yang bikin saya terharu, di akhir pembicaraan, Papa bilang, "Maafin Papa ya, Nak. Kadang Papa salah cara. Tapi Papa sayang kalian. Papa pengen kalian jadi anak yang saleh, nggak cuma di dunia, tapi juga jadi penolong Papa di akhirat kelak."

Nangis saya, Sob.



Buat Anak-anak Seusiaku, Buat Orang Tua di Rumah

Saudara-saudaraku, teman-temanku sebaya, dan para orang tua yang mungkin baca tulisan ini...

Buat anak-anak seusiaku (atau mungkin adik-adik kelas yang lebih muda), Coba lihat orang tuamu di rumah. Mereka mungkin kadang marah-marah, kadang nyuruh-nyuruh, kadang bikin kesel. Tapi percayalah, di balik semua itu, mereka cuma pengen yang terbaik buat kita. Ramadhan ini, coba luangkan waktu buat ngobrol sama mereka. Tanyain gimana dulu mereka belajar puasa. Tanyain kesulitan mereka waktu kecil. Bisa jadi, kita baru tahu betapa beratnya jadi orang tua.

Buat para orang tua (yang mungkin anaknya baca ini diam-diam), Terima kasih, ya. Terima kasih udah nggak capek-capek ngajarin kami. Terima kasih udah sabar ngadepin kami yang kadang bandel. Tapi, tolong ingat, kami juga butuh diajak ngobrol, bukan cuma diperintah. Kami juga butuh dipahami, bukan cuma dihakimi. Kasih kami contoh, bukan cuma teori. Dan yang paling penting, jangan berhenti mendoakan kami. Karena doa orang tua itu mustajab.

Di sisa Ramadhan yang tinggal 15 hari ini (hari ke-15 berarti sisa 15 hari lagi, ya kan?), mari kita perbaiki semuanya. Yang anak, coba lebih nurut. Yang orang tua, coba lebih sabar. Kita sama-sama belajar. Karena pada akhirnya, parenting itu bukan tentang orang tua yang sempurna, tapi tentang orang tua yang selalu berusaha. Dan anak yang baik, bukan yang paling pintar, tapi yang paling sayang sama orang tuanya.

Ramadhan adalah madrasah, dan keluarga adalah kelasnya. Selamat belajar, semuanya!

Wallahu a'lam bish-shawab.



#ParentingRamadhan #AnakShalehRamadhan #TipsOrangTuaHebat #RamadhanBersamaKeluarga #SMPIslamKHAhmadBadjuri



Tidak ada komentar:

Posting Komentar